saya Vicentia Dwiyani , Awal tahun 2016 menjadi awal penderitaanku karena tiba-tiba saja saya mengalami alergi kulit yang tidak kuketahui penyebabnya. Alergi kulit yang bisa datang kapan saja. Dimulai dari rasa panas menjalar di bagian-bagian tertentu hingga ke sekujur tubuh, kulit bagai ditusuk-tusuk jarum. Setelah panas mereda, muncul bentol-bentol dan berganti dengan rasa gatal yang liar biasa hebatnya. Beberapa kali periksa ke dokter, saya diminta untuk menyelidiki sendiri alergi apa yang mungkin terjadi. Mulai dari makanan amis, udara, saya coba jauhi, tetapi tak juga kutemukan penyebabnya. Hingga suatu ketika saya sedang menjaga Ibu yang sedang opname di sebuah Rumah Sakit. Tiba-tiba alergi itu muncul hampir membuatku pingsan. Akhirnya dokter menyarankanku suntik uji alergi.

 

Saya belum memiliki keberanian melakukan suntik uji alergi hingga beberapa bulan. Pada suatu kesempatan saya bertemu Mbak Kartika, istri dari Mas Gobind Vasdev, di Jogja. Ketika saya menceritakan permasalahan alergi, dia menyarankan agar saya berhenti menggunakan sabun ketika mandi atau cuci muka, diganti dengan bubuk kopi atau garam. Saya ikuti saran yang diberikan. Namun, saya merasa belum bersih setiap kali mandi. Akhirnya, saya melakukan pelacakan melalui internet, saya menemukan informasi mengenai khasiat daun jambu bagi kulit. Mulailah saya berekplorasi mencampur daun jambu dengan berbagai bahan yang bermanfaat untuk kulit, kemudian saya memakainya sebagai pengganti sabun. Saya merasa puas dengan hasilnya diikuti dengan sembuhnya alergi kulit yang selama ini saya derita. Senang dengan penemuan tak terduga, saya share pengalaman tersebut di Facebook. Sama sekali tidak menduga ada banyak respon, salah satunya seorang sahabat yang meminta saya memroduksi dan menjual ramuan tersebut. Kaget, senang, tetapi bingung bagaimana harus memulainya.

 

Dari situlah saya kemudian melakukan uji coba formula, dengan subyek percobaannya diri saya dan putri saya. Banyak teman yang sudah merasakan manfaat dari “sabun pengganti” yang saya produksi. Luka bakar semakin tersamar, jerawat sembuh, noda jerawat dan flek hitam memudar, kerutan berkurang, wajah kusam makin cerah, dan masih banyak kesaksian dari para pelanggan, membuat saya makin bersemangat, padahal saya hanya mengatakan bahwa produk saya ini hanyalah pengganti sabun. Begitulah akhirnya saya semakin menekuni usaha ini.

 

Kendala

 

Sebetulnya motivasi saya memroduksi produk perawatan kulit ini kadang mencapai titik terendah, yaitu ketika menghadapi berbagai perizinan yang harus saya jalani. Rasanya kok sulit banget. Ditambah profit yang menurutku kurang sesuai karena saya menggunakan bahan organik yang harganya cukup tinggi, tetapi ketika saya membandrol harga produk yang sepadan, banyak yang menilai terlalu mahal. Mereka membandingkan dengan produk2 yang ada di pasaran. Saya sering berfikir bagaimana mungkin orang yang modalnya pas-pasan bisa mengembangkan produk perawatan kulit (kecantikan) jika untuk perizinan saja syaratnya sulitnya minta ampun?

 

Impian Saya

 

Setelah menjalankan usaha produk perawatan kulit yang saya namai “Kiramoli” yang berarti Ratu yang cantik dan bijaksana, selama setahun, saya memiliki impian usaha saya ini akan saya pertahankan sebagai usaha yang melibatkan tenaga manusia, memberi rejeki kepada banyak orang, membuat orang makin bijaksana dalam merawat kulitnya sekaligus mencintai alam karena limbah dari produk saya ini sangat ramah alam. Saya juga bermimpi produk saya ini akan menjadi produk unggulan Indonesia yang mendunia, bisa saya wariskan ke anak cucu.

 

Harapan Saya dengan Mengikuti IWPC

 

Dalam dunia bisnis, saya ini masih sangat awam, belum memiliki pengetahuan maupun pengalaman yang baik. Melalui IWPC saya ingin mendapatkan pengetahuan sekaligus pengalaman dari para nara sumber maupun sesama peserta, sehingga ibarat berjalan, saya memiliki peta yang jelas, sehingga arah saya juga jelas, dan melangkah pun semakin yakin.

Comments

comments

Share