Category: IWPC 14

Teringat Hoby Lama Membuat Kue , Menjadi Langkah Merintis Bisnis Kuliner

Hai.. Saya Laksmi Indra Fatima, wanita lajang berusia 38 tahun, yang mendapat predikat pengangguran saat memasuki tahun 2016. Surat kabar tempat saya berkarya akhirnya menyerah dan gulung tikar. Tidak mampu bersaing dengan media online yang semakin menjamur, oplah yang menurun serta harga kertas yang terus naik membuat harian sore yang memiliki sejarah panjang ini harus menyerah.

Tiga bulan pertama, serasa mendapat cuti panjang. Saya traveling ke sana kemari sampai puas. Memasuki bulan ke-4, tabungan mulai menipis. Kecemasan melanda. Mulai kasak kusuk mencari lowongan pekerjaan. Antara berharap dan khawatir. Mengingat umur yang sudah banyak. Sementara rata rata lowongan kerja syarat usianya maksimal 27 tahun. Waduh, kelebihan usianya kebanyakan. Harus mengandalkan network kalau sudah begini. Kekhawatiran bertambah mengingat saya terbiasa bekerja dalam lingkungan yang santai dan tidak kaku dalam jam kerja. Tampaknya akan sangat menyiksa kalau harus memulai rutinitas baru dengan jam kerja normal 9-5.

Sambil sesekali menerima tawaran kerja freelance, saya mulai berpikir untuk harus melakukan sesuatu yang lebih serius, saya senangi, tapi menghasilkan. Saya punya hobi jalan jalan. Bagi saya, naik gunung atau sekedar ngecamp merupakan kemewahan. Momen dimana saya bisa merasa sangat dekat dengan sang pencipta.

Terpikir untuk membuat paket perjalanan. Saya eksekusi beberapa kali untuk cek ombak. Tapi karena yang ikut adalah teman teman saya, jadi ga tega mau kasih harga. Akhirnya cuma sharing biaya saja. Saya merasa ini kurang “tepat”. Lalu sempat juga berpikir untuk bikin website tentang traveling. Saya mencoba mencari pembeda dari semua website travelling yang ada. Kok kayaknya semua sudah ada. Selain itu juga, saya merasa kurang menguasai kalau untuk menulis.

Hingga di suatu malam, saya teringat dengan hobi lama yang selama ini terabaikan. Bikin kue. Hobi yang lama sekali tak pernah dilakukan, yakni sejak tak ada lagi oven di rumah kami. Padahal hobi ini sudah saya gemari sejak duduk di bangku SD. Kecintaan yang tumbuh karena sering membantu Almarhum ibu saya.

Entah keberanian darimana, paginya saya langsung menuju toko perlengkapan kue dan membeli oven. Padahal belum punya rencana yang jelas mau melakukan apa. Selama satu minggu, oven baru yang masih kinclong itu hanya dipandangi.

Memasuki bulan puasa, saya mulai mengeksekusi beberapa resep kesukaan. Sampai akhirnya saya bikin Apple Pie. Cemilan yang sangat saya suka, tapi kalau beli jarang di temui yang pas di lidah saya. Saya mulai gerilya. Apple pie saya bawa ke beberapa acara buka puasa bersama untuk uji organoleptik. Ada beberapa masukan, tapi cenderung positif responnya. Bahkan beberapa kawan bilang kalau ini lebih enak dari penganan serupa yang cukup terkenal di Kota Bogor. Mulai ada titik terang.

Pasca lebaran saya memutuskan untuk berjualan pie. Bulan Juli yang panas. Suhu udara di rumah menjadi lebih panas daripada biasanya. Karena oven di rumah menyala terus. Saya semangat memperbaiki resep Apple Pie. Selain itu juga mulai uji coba beberapa varian pie lainnya. Siang baking, malam melamun demi mencari ide untuk nama usaha. Lalu muncul ide untuk memberikan nama Lif n Lov Pie. “LIF” merupakan singkatan dari nama saya, Laksmi Indra Fatima, sementara “Lov” singkatan dari Little Oven. Jadi Lif n Lov adalah Laksmi Indra Fatima n her little oven.

Nama sudah, mulai memikirkan logo. Berbekal kemampuan adobe illustrator yang tidak seberapa (karena hanya belajar otodidak), dan berselancar di dunia maya seharian plus bengong semalaman untuk mencari ide, jadilah logo seperti yang sekarang ini.

Nama sudah. Logo sudah. Oke, saya lalu membuat beberapa akun sosmed dengan nama Lif n Lov. But wait!! Saya belum punya foto produk yang keceh untuk ditampilin di sosmed. Alhamdulillah punya sahabat yang hobi motret. Jadilah beberapa foto keceh tanpa keluar biaya. Semakin semangat. Saya lanjutkan dengan menghitung harga jual, sambil terus mengeksplor varian pie yang lain.

Akhir Juli 2016 saya memberanikan diri untuk launching beberapa foto di Instagram dan Facebook. Nekad. Beberapa pesanan mulai masuk. Sementara saya belum menemukan solusi untuk packaging. Pengiriman pesanan saya percayakan pada jasa ojek online. Untuk jarak dekat, masih memungkinkan dengan kemasan seadanya pada saat itu. Tapi untuk jarak jauh, rasanya jantung mau copot. Khawatir rusak di jalan.

Next, putar otak untuk mencari kemasan yang kokoh dengan bujet yang minim. Saya tidak mau harga jual produk yang terlalu mahal karena biaya pengiriman sudah dibebankan ke pembeli. Selain promosi di sosmed, saya juga membuka toko online di tokopedia.

Pesanan mulai berdatangan. Bahkan sedikit kewalahan. Bisa jadi karena masih penasaran dengan produk saya, maka banyak sekali pesanan yang masuk. Apalagi kalau tanggal habis gajian. Bisa begadang saya untuk memenuhi pesanan yang masuk. Usaha ini saya jalankan sendirian. Mulai dari belanja, baking, packing sampai pesan jasa ojek online semuanya saya lakukan sendiri. Jadi ya CEOnya saya, Chefnya saya juga, bahkan OBnya juga saya. Finansial belum memungkinkan untuk menggaji orang lain. Dan ternyata hingga saat ini belum juga mampu menggaji orang. Hiks..

Respon pembeli hampir semuanya positif. Beberapa mulai repeat order. Eksplorasi varian baru juga terus saya lakukan. Saya juga memikirkan apa yang bisa dijadikan pembeda antara produk saya dengan produk lainnya.

Saya lihat selama ini orang lebih sering merayakan momen istimewanya dengan kue tart, atau penganan yang manis, sementara pie yang saya buat juga tersedia yang gurih/asin. Saya mulai membuat customized pie. Pie yang bisa dipesan khusus dengan tulisan di atasnya. “Say it with Pie” begitu taglinenya. Selain tampilan yang menarik dan rasanya yang juga enak, biasanya yang menerima “customized pie” ini juga merasa “special” karena khusus dipesan untuk dirinya.

Satu tahun berjalan. Saya mengevaluasi progresnya. Ada sih progresnya, tapi lambat sekali. Cek sana sini, baca ini itu. Oke.. Kendala di marketing. Tapi saya kurang menguasai dunia marketing. Ditambah saya bukan orang yang aktif di sosmed. Tetapi bukankah aktif di sosmed merupakan modal utama untuk sebuah usaha online? Aduh, harus lakukan sesuatu nih pikir saya.

Suatu ketika, saat saya iseng baca baca timeline FB, saya baca postingan seorang teman yang ternyata aktif di Woman Preneur Community. Saya mulai “kepo” dengan grup FB ini. Lalu saya join ke grup FB WPC dan saya semakin kepo. Saya lihat komunitas ini environmentnya sangat positif. Beberapa kali ingin ikut acara kopi darat yang diadakan, tapi selalu gagal. Entah waktunya kurang pas, lokasinya yang agak jauh atau bisa juga karena niatnya yang kurang kuat.

Memasuki tahun 2018, saya mendapatkan tawaran kerja dengan gaji yang menggiurkan. Tawaran serupa pernah beberapa kali saya terima. Saat itu tanpa ragu saya memilih mempertahankan usaha saya. Kali ini saya galau parah. Mungkin mulai lelah dengan masalah finansial yang ada. Jika saya ambil peluang ini, masalah finansial saya bisa selesai. Tiap bulan ada pendapatan tetap. bahkan hobi traveling yang mulai “diliburkan” bisa saya lakukan lagi. Lalu bagaimana dengan Lif n Lov..?? Apa iya mau dilepas begitu saja? Bagi saya usia 1.5 tahun itu masih balita. Wajar menurut saya kalau masih merangkak. Memang masih belum menghasilkan seperti yang diharapkan. Tapi saya yakin ini karena saya belum benar mengelolanya.

Dan keputusan saya ambil. Tolak tawaran kerja, dan perbaiki bisnis ini. Pada saat yang bersamaan, saya melihat postingan WPC yang akan mengadakan kopi darat di Cawang. Saya tertarik untuk ikut, karena salah satu pembicaranya adalah seorang copywriter. Akhirnya saya memberanikan diri untuk ikut kopdar ini.

Benar dugaan saya. Menarik sekali berada bersama kawan kawan ini, Vibe-nya sangat positif. Informatif dan juga sangat inspiratif. Rejeki anak soleh, kebetulan sekali Founder WPC bisa hadir pada acara ini. Mami Irma, kerap beliau disapa, ikutan mengisi kopdar ini. Kami para peserta kopdar yang sudah memiliki usaha dibombardir pertanyaan pertanyaan tentang bisnis kami. Dan saya tergagap. Tidak bisa menjawab. Padahal pertanyaannya merupakan hal yang fundamental untuk menjalankan sebuah usaha. Dan saya menyadari kalau usaha yang saya jalankan selama ini hanya modal feeling. Tanpa keilmuan sama sekali. Asal berjalan saja, yang penting ada lebihnya buat makan sehari hari.

Saya harus belajar!! Saya harus ikut IWPC!! Itu yang terus ada di kepala saya sepulang dari Cawang. Sempat galau karena jadwal IWPC Jakarta yang sudah sangat dekat dan juga berbenturan dengan beberapa kegiatan saya yang sudah terencana sebelumnya. Hingga akhirnya saya membulatkan tekad untuk mendaftar dan yakin bahwa mengikuti kegiatan ini merupakan solusi dari masalah yang saya hadapi dalam pengembangan bisnis yang saya jalani selama ini.

Lumayan panjang juga ya dongengnya? Haha.. Semoga dapat memberikan gambaran mengenai bisnis yang saya jalani saat ini.

Share

Nani Rahyuni, Usia bukan Hambatan Untuk serius Merintis usaha

Saya Nani Rahyuni, di umur yang sudah tidak muda ini ingin mencoba memperbaiki manajemen dalam pengembangan usaha produksi mukena yang saya rintis dari tahun 2014 lalu.

Berawal dari empat tahun lalu, tepatnya pada April 2014, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari sebuah kantor swasta di bilangan Jakarta. Sejak saat itu saya melihat peluang dalam usaha produksi mukena, kali itu masih produksi mukena dewasa saja dengan jumlah yang tidak terlalu banyak.

Suatu ketika, saya mendapatkan tawaran untuk dimuat di sebuah Majalah wanita Muslim, yaitu Majalah Paras. Dan satu minggu setelah terbitnya liputan saya di Majalah, saya mendapatkan telepon dari seseorang di Makassar yang memesan mukena saya sebanyak 300 Pcs. Sejak saat itu, saya mulai berpikir untuk mengembangkan usaha saya menjadi lebih besar, dan memproduksi pesanan tersebut hanya dibantu oleh suami saya, tanpa bantuan penjahit lainnya.

Seiring berjalannya waktu, banyak tetangga dan teman-teman saya meminta untuk melihat produk mukena saya yang sudah diliput dalam Majalah tersebut.

Alhamdulillah, banyak antuasias dari baik tetangga maupun teman-teman saya. Mereka senang berbelanja mukena buatan saya, yang akhirnya saya beri nama brand “Kaliwatu”.

Kompetisi produk mukena yang semakin  hari semakin ketat, membuat saya berfikir lebih keras lagi untuk improvement produk saya. Saya harus membuat mukena couple ibu dan anak, walaupun untuk pembuatan mukena anak sampai sekarang saya masih menunggu pesanan sizenya.

Mengikuti IWPC 14 tahun 2018 adalah impian saya  agar usaha saya makin membaik dari segi manejemen, keuangan, dan tertib administrasi.

Bukan hanya sekedar membeli bahan segini dan dijual segitu, apakah kita untung?

Itu yang sangat ingin saya perbaiki. Dan selain itu, bukan hanya berbisnis yang memberi kenyamanan beribadah, juga kenyaman isi kantong .

Memperbaiki kesalahan-kesalahan adalah semangat saya untuk bisa bertumbuh dan menjadikan usaha ini usaha dunia akhirat.

Share