Halo Womanpreneur Community, saya Anastasia, usia 31 tahun dan sudah menikah, namun belum berstatus menjadi ibu.

Saya dari sejak lulus kuliah sebenarnya ingin sekali memiliki usaha namun belum berani, belum ada modal dan belum tahu akan membangun bisnis seperti apa.

Namun setelah menikah, saya dan suami sepakat bahwa ini adalah saat yang tepat untuk membangun usaha. Karena kami juga punya harapan, jika sudah dikaruniai anak, kami bisa memiliki legacy/ warisan berupa usaha yang kami tekuni.

Dengan modal nekat dan asal mulai saja, saya memberanikan diri dengan memulai online shop di bidang fashion dan aksesoris.

Toko online shop saya yang pertama menjual pakaian batik dan kerajinan tangan batik seperti tas, pouch dan sebagainya yang saya jahit sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, toko online saya tersebut bisa dibilang hanya sekedar dagang saja dan tidak membangun brand. Saya kewalahan karena dari pembelian bahan baku hingga produksi saya lakukan sendiri. Saya masih berprinsip ‘kalau laku berarti sudah untung karena harga barang yang saya jual sudah jauh dari harga produksinya’.

Tapi balik lagi, karena masih berantakan, saya jadi tidak tahu apakah sudah profit atau justru loss banyak karena pembukuan tidak saya lakukan.

Titik baliknya adalah ketika saya mengikuti program CSR dari salah satu perusahaan yang memberikan pelatihan gratis tentang kewirausahaan khusus untuk wanita.

Dari situ saya belajar sedikit tentang seluk beluk entreprenuership. Saya kemudian berpikir untuk dropship dan reseller baju anak dengan asumsi bahwa modalnya lebih kecil dan tenaga yang dikeluarkan lebih minim karena saya tidak perlu menjahit sendiri.

Meskipun sudah lebih baik dari sebelumnya baik dari sales maupun secara administrasi pencatatan, namun usaha yang saya bangun bukan brand saya sendiri karena masih membeli produk yang kemudian saya jual kembali.

Kenapa saya ingin ikut kelas inkubasi ini? Karena saya tidak mau sekedar berdagang. Saya ingin kembali ke cita-cita awal dimana saya ingin membangun brand, membangun nilai dari brand tersebut, memberi dampak sosial dan juga tetap mengusung batik dan kain tradisional Indonesia.

Dengan literasi yang didapat, pengalaman yang dijalani serta ide yang ada, saya tidak ingin salah langkah lagi. Saya tidak ingin ragu-ragu lagi. Saya ingin serius membangun dari awal dengan konsep yang sudah lebih mengerucut arahnya seperti apa brand yang akan saya akan buat. Saya ingin menjadikan buah pikir saya menjadi kenyataan.

Semoga dengan program inkubasi ini, cita-cita awal saya bisa terwujud sehingga saya bisa memiliki bisnis yang sehat sehingga mandiri secara finansial, mensejahterakan banyak orang, serta berdampak bagi sosail dan lingkungan.

Comments

comments

Share