Karina chrisanti1

Tidak pernah terbersit sebelumnya bahwa saya akan menjalani usaha baju anak homemade. Sepuluh tahun sebagai pekerja kantoran dengan posisi bagus saat itu, saya mengambil keputusan untuk resign dengan alasan melahirkan dan mengurus anak pertama saya. Tiga bulan di rumah tanpa kegiatan, membuat saya memutar otak mencari kegiatan apa yang bisa saya lakukan dengan kondisi semuanya dapat dijalani dari rumah. Lalu inspirasi untuk membuat label baju anak homemade datang ketika saya menyadari bahwa anak saya yang masih bayi cepat sekali pertumbuhannya sehingga seringkali setiap bulan harus belanja baju (hahaha..). Disinilah saya melihat adanya peluang usaha baju anak dapat saya jalani dan memperkenalkan kepada pasar secara online. Jemi Baby Kids, nama brand baju anak yang terinspirasi dari nama panggilan sayang anak pertama saya. Hanya dengan bermodal 2 juta rupiah saya menjalankan usaha idealis saya ini.

Dengan bantuan suami, saya banyak melakukan pencarian dan survey konveksi yang dapat bekerjasama untuk usaha ini. Ya, saya memang tidak memilih untuk memiliki penjahit sendiri dan lebih memilih jasa makloon konveksi karena beberapa pertimbangan tertentu. Trial and error dijalani, mulai dari konveksi yang memiliki hasil bagus saat sampel sampai dengan hasil jahitan konveksi yang dijual murah pun bahkan tidak laku. Sampai akhirnya saya memiliki beberapa rekanan konveksi (yang malah rata-rata adalah penjahit rumahan) yang rutin melakukan proses produksi memasuki tahun ke-dua ini.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya tidak dapat menghindari banyaknya kompetitor kategori serupa. Dengan target pangsa pasar Jemi yaitu menengah keatas, Jemi memposisikan diri sebagai baju anak yang nyaman digunakan sehari-hari.

Dengan design baju dan bahan yang sifatnya limited dan ekslusif karena hanya brand kami yang punya, kami tidak membuka sistem reseller, walaupun cukup banyak customer yang ingin menjual produk kami.  Lama-kelamaan, muncul versi-versi produk serupa di pasaran online yang dijual dengan harga lumayan jauh dibawah harga jual Jemi. Bahkan sampai ada kami temukan, customer yang membeli beberapa produk kami dan meniru serta menjual dengan harga yang murah dibawah harga kami. Saya sendiri menyadari bahwa yang namanya baju anak pasti modelnya itu-itu saja atau bahkan ada yang sama antara satu brand dengan brand yang lain. Namun dengan adanya persaingan yang tidak sehat seperti ini (menurut saya..) maka disinilah saya harus mengambil langkah inovasi apa yang harus dilakukan supaya brand ini dapat berkembang dan memperluas pasar.

Puji Tuhan memasuki tahun ke-dua ini, produk Jemi tidak hanya dapat dijumpai secara online di instagram official kami, tetapi juga dapat langsung ditemui dan membeli di stockist store offline, Pelangi Aikyko, Gandaria, Jakarta Selatan. Hal ini membuat saya semakin ingin belajar lebih lagi untuk mendevelop brand Jemi ini. Karena ini lah saatnya bagi brand ini untuk dapat berkembang dan memperluas market kami ditengah persaingan online shop serupa. Selain itu saya berharap dapat memperbaiki strategi dan plan yang dirasakan masih jalan tersendat. Saya percaya bahwa brand ini akan memiliki pasar yang tepat. Sehingga dengan ikut sertanya saya dalam program ini, saya tidak harus hanya menggunakan intuisi atau ilmu kira-kira kalau ini laku ndak ya.. Atau itu orang suka ndak ya.. Tapi saya bisa mendapatkan ilmu yang menjadi bahan evaluasi dan bahan planning saya terhadap produk idealis saya ini.

 

-Karina chrisanti-

Comments

comments

Share