Noor Utami Dewi, Masuk dapur bukanlah piihan saya . Ibu saya senantiasa khawatir karena sampai saat menikah saya tidak bisa memasak sama sekali. Dari kecil saya tidak pernah bersentuhan dengan dapur bahkan untuk sekedar menggoreng sebutir telur sekalipun. Saat setelah menikah sebenarnya yang suka coba-coba memasak adalah suami saya. Hampir setiap setelah browsing resep masakan dan beli bahan-bahannya, begitu masuk dapur tidak pernah diselesaikan dan saya yang harus menyelesaikanya. Dari situlah saya mulai suka dengan kegiatan masak-memasak, pertamanya masakan rumah, cemilan basah lalu membuat kue.
Sepanjang 12 tahun pertama pernikahan, saya sudah hidup di 6 kota yang berbeda karena mengikuti suami, mulai dari Jakarta, Sumatera, Kota2 di Jawa bahkan sampai Kalimantan hingga akhirnya kami memutuskan untuk memilih Semarang sebagai “home base”. Hampir di setiap kota saya memiliki komunitas ibu2 yang umumnya sesama perantau, dan hampir di setiap kota tersebut kami memiliki tradisi bertukar resep masakan, saling antar makanan dan juga memasak bersama. Saya juga sering terlibat dengan masakan dan makanan apabila kantor suami mengadakan acara. Dari situlah koleksi resep saya semakin beragam dan kemampuan saya semakin terasah.
Saya tidak pernah berpikir untuk bisnis kuliner sampai suatu saat salah satu anak saya mengatakan bahwa “kawan-kawannya sangat suka dengan bekal yang dibawanya dan mereka mau membelinya jika saya mau menjualnya”, dan kawan-kawan suami saya juga sering menanyakan “apakah bisa memesan cake yang saya buat”. Dengan dorongan suami dan dukungan anak-anak akhirnya saya memantapkan diri memulai bisnis kuliner dengan menjual roti tape, meluncurkan brand “Mamaya” dengan tag line “Fermented-Cassava Cake ; Cara Mewah Menikmati Tape”.
Saat ini saya sedang mengembangkan varian produk mulai dari cake, roti, snack hingga frozen food. Saya juga menjadi agen makanan sehat (non-MSG, non-pengawet) dan membantu menyalurkan makanan tradisional yang dibuat oleh produsen lokal dari pinggiran kota Semarang.
Rencana bisnis saya dalam waktu dekat adalah mendapatkan PIRT, memperbaiki kemasan dan memperbanyak varian produk. Dalam jangka menengah saya ingin memiliki sebuah tempat produksi yang terpisah dari rumah dan sebuah outlet di Kota semarang serta jaringan penjualan online. Terakhir, mimpi saya adalah bisa membuka lapangan kerja seluas-luasnya dan memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional.
Motivasi saya mengikuti program IWPC ini adalah mendapatkan bekal ilmu dan pengalaman untuk masuk ke bisnis profesional dan mengembangkan jaringan seluas-luasnya.

Semarang, 14 September 2015

Comments

comments

Share