Rini Arifiani – IWPC 19 Jakarta

 

TOMA TOMI Story

Awal mula di tahun 2005, dikota kelahiran saya di Garut terjadi surplus TOMAT, di mana tomat itu tidak ada harganya bahkan petani yang sudah panen saja tidak mau memetik karena harga petik terlalu mahal ketimbang harga jual

Harga tomat ketika surplus per kg nya itu bisa 500 perak. sangat sangat murah dan menyebabkan tomat banyak di buang di pinggir jalan

Saya melihat hal ini sebagai sebuah peluang, dimana saat itu orang tua saya baru divorce (bercerai) dan mama hanya seorang Ibu Rumah Tangga, saya teringat ketika masih kecil mama suka membuat manisan tomat,,kemudian saya memberikan ide ke mama untuk membuat manisan tomat untuk di jual sehingga bisa memenuhi kebutuhan hidup kami

Pada saat itu saya berpikir hanya untuk melangsungkan hidupnya dengan berjualan manisan tomat, dan ternyata respon dari masyarakat sangat bagus apa lagi ketika menjelang hari raya

Ketika penjualan mulai meningkat ada saja kendala yang di hadapi yaitu Faktor cuaca (ketika hujan kan musimnya bisa 6 bln dan di sana ud tidak bs produksi) dan harga tomat yang melambung tinggi 10 x lipat yang tadi 500 menjadi 5000 dan menyebabkan produksi terhenti. Dari sana saya hanya memproduksi di musim kemarau saja dan hanya untuk stok lebaran.

Pada tahun 2016 saya memberikan oleh oleh manisan tomat ini kepada teman2 di jakarta dan mereka suka sekali dan saya kasih coba kekeluarganya dan mereka suka juga dan banyak yang bilang ini seperti kurma atau kismis

Disana saya melihat sebuah peluang yang lebih besar lagi, ketika saya diskusi dgn teman tentang kendala terbesar manisan tomat ini adalah di proses pengeringan karena masih manual, akhirnya teman saya mencari mesin pengering dan ternyata ada.

Dan dari sana saya  re-brand ulang dari MANISAN TOMAT menjadi TOMAT KURMA dan menariknya kita bisa memproduksi bukan untuk hari raya saja tetapi setiap hari untuk di konsumsi kapan saja.

Pada awal tahun 2019 saya re-brand ulang dari TOMAT KURMA menjadi TOMA TOMI, di karenakan nama Tomat Kurma terlalu umum dan tidak kuat untuk Branding Position.

 

Kendala yang di hadapi:

  1. Produksi

Ketika produksi dalam skala besar hasil produksi selalu berubah-ubah tidak sama, kurangnya peralatan yang mensupport proses produksi supaya dapat memangkas proses produksi (banyak yang masih manual belum automation)

  1. Marketing

Kendala dalam memasarkan melalui media, event atau kerjasama. Saat ini penjualan masih melalui social media, teman, keluarga dan dari mulut ke mulut

  1. Bisnis Systems

Semuanya masih dilakukan dengan manual, ingin memiliki systems supaya bisa automation

 

Alasan ikut IWPC:

  • Ingin memiliki mentor untuk mengembangkan bisnis
  • Ingin memiliki komunitas untuk bisa saling support
  • Ingin menambah relasi & networking
  • Ingin belajar menjalankan bisnis yang baik dan benar
  • Ingin belajar bisnis system & automation

 

Comments

comments

Share