laniMasa Kecil

Orang tuaku memberi nama Lani Sri Rahmayanti, aku lahir pada tanggal 04 juli 1979 di sebuah kota di Jawa Barat yaitu kota Ciamis, masa kecilku dihabiskan di sebuah kota kecil yaitu kota kecamatan Padaherang yang hanya setengah jam dari Pantai Pangandaran.

Ibuku adalah seorang pengajar dan ayahku adalah seorang pengusaha kontraktor. Melihat jatuh bangunnya usaha ayahku saat itu tidak ada niat untuk menjadi pengusaha. Buat ku pengusaha adalah profesi yang tidak menentu serba tidak pasti.

Saat memasuki masa SMA saya hijrah ke Tasikmalaya karena memang keluarga besar dari ayahku berasal dari sana, saat itu saya melihat banyak sekali potensi di kota Tasikmalaya dari mulai bordir, kelom dan kulinernya. Saat itu saya hanya memperhatikan tante saya yang kebetulan usaha fashion untuk diantar ke pengrajin bordir. Lalu saat memasuki masa kuliah saya hijrah ke kota Bandung dengan mengambil jurusan Teknik Planologi di Institut Teknologi Nasional, saya menghabiskan masa kuliah dengan normal-normal saja. Saat masa kuliah, usaha ayah saya mengalami kebangkrutan, banyak aset-aset keluarga yang dijual. Maka saat itu saya semakin antipati terhadap profesi pengusaha, sehingga cita-cita saya saat lulus kuliah yaitu bekerja di pabrik nya uang. Tibalah saat saya selesai wisuda di akhir tahun 2002, ayah saya waktu itu menyarankan saya untuk mengurusi usaha kontaktornya, dengan sangat antipati saya bilang saya tidak berminat menjadi pengusaha. Karena pengusaha yang ada dibayangan saya waktu itu adalah rangkaian dari penderitaan. Maka saat itu saya mencoba untuk melamar pekerjaan sesuai dengan cita-cita saya yaitu bekerja di pabriknya uang yaitu “bank” atau di “Bank Indonesia” dan akhirnya pada tahun 2003 saya berhasil bekerja di sebuah perusahaan perbankan BUMN terbesar di Indonesia yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI) tetapi memasuki tahun 2008 saya mengalami masa jenuh dalam pekerjaan, saya merasa mengalami rutinitas yang tidak berakhir. Sehingga tanpa disengaja muncullah niatan untuk usaha, ide-ide muncul dengan derasnya nyaris tak terkendali. Sehingga hal tersebut membuat saya tidak tenang,

Langkah Awal memulai usaha

maka 2009 dimulailah usaha saya di bidang fashion yaitu dengan membuka butik pakaian di daerah dekat dengan tempat tinggal saya yaitu seputaran Rancaekek Bandung dengan alasan biar gampang ngeceknya. Butik tersebut saya namai dengan “Maddinah”, dengan pegawai 2 orang shift. Maka dimulailah rutinitas sepulang saya bekerja setiap habis maghrib saya mengunjungi usaha saya tersebut. Dan di hari libur, yaitu setiap sabtu subuh saya rutin belanja ke pasar Tanah Abang Jakarta. Di awal usaha saya rintis, alhamdulilah 3 bulan pertama butik saya sepi nyaris tidak ada pembeli. Tapi justru disitulah tantangannya, akhirnya saya banting setir, butik hanya sebagai tempat untuk sisa perputaran barang saja. Akhirnya saya jualan baju hingga ke tasikmalaya, ciamis serta garut, dengan sistem drop. Barang saya simpan untuk ibu-ibu arisan lalu saya ambil 1 minggu kemudian dengan sisa barang dan uangnya, dan bertambahlah kesibukan saya di setiap akhir minggu. Seiring dengan waktu yang berjalan, pelanggan saya sudah mulai bertambah dan alhamdulilah perputaran barang dan uang di butik sudah mulai meningkat sehingga sudah mampu membiayai dirinya sendiri. Saat menjalani bisnis butik fashion ini, hidup terasa lebih hidup sehingga tidak ada lagi rasa jenuh. Saya menjalani usaha tersebut selama 2 tahun, tetapi diawal 2012 seiring dengan diterimanya proposal penelitian saya di sebuah Universitas Negeri di Bandung maka saya harus menjalani perkuliahan S2. Kehidupan saya mulai tidak balance karena saya harus membagi-bagi waktu antara keluarga, pekerjaan, bisnis dan perkuliahan. Butik sudah mulai tidak terkontrol sehingga penjualan menurun drastis, maka saat tersebut saya harus mengambil keputusan yang sangat sulit yaitu saya harus menutup usaha butik saya karena terus merugi.

Bangkit Menemukan Passion

Sehingga kegiatan saya hanya keluarga, pekerjaan dan perkuliahan, tetapi hal tersebut membuat saya merasa jenuh kembali dengan semua rutinitas. Pada akhirnya pada tahun yang sama, saya bersama teman kerja merintis usaha sandal dengan brand “centil”, yaitu dengan mengukur kaki-kaki teman kerja saya lalu saya orderkan sandalnya ke saudaranya teman saya tersebut. Alhamdulilah usaha tersebut mendapatkan respon yang positif, tetapi pada akhir 2012 usaha tersebut mengalami masalah karena kami sangat mengandalkan orang lain dalam produksinya. Maka di awal 2013 saya mulai memberesi produksi dengan cara mencari pengrajin ke daerah tasikmalaya untuk kayu bagian bawahnya, lalu saya mencari pengrajin di bandung untuk bagian mukanya. Dari satu pengrajin ke pengrajin yang lain tidak lah mudah, sehingga pada akhirnya bertemu dengan pengrajin yang cocok yaitu bapak kundang dan bapak iyep. Pada akhirnya saya menjalankan usaha ini sendirian, dengan mengikuti IWPC maka semakin jelaslah tujuan dari bisnis sandal ini. Bisnis sandal ini saya spesialisasikan jenis kelom dengan ukiran dibagian bawahnya lalu diberi muka pada bagian atasnya.

visi usaha saya yaitu mengembangkan dan memperkenalkan pada khalayak bahkan dunia internasional tentang kelom khas tasikmalaya. Dan misi dari usaha saya yaitu dengan inovasi model ukir pada bagian haknya serta bagian mukanya, mengembangkan produk unggulan yaitu dengan muka dari kain-kain tradisional khas indonesia yaitu batik, tenun, songket,dll, sehingga kelom yang saya buat memiliki nilai unik dan etnik.

Untuk bagian muka dibuat dengan bahan yang berkualitas dan membuat pemakainya nyaman walaupun dengan hak yang tinggi, lalu bagian kayunya dibuat dari bahan kayu mahoni yang kuat. Kelom produksi saya ini memiliki nama brand “Mixmax Klom” dengan segmentasi pasar menengah ke atas (middle up). Sementara ini kami menjalankan bisnis ini by order dan mengikuti pameran-pameran,

Comments

comments

Share